Sabtu, 10 Oktober 2015
Hijab
وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ
مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلاَيُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّمَاظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ
عَلَى جُيُوبِهِنَّ
“Dan katakanlah kepada wanita-wanita mukminat, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan janganlah menampakkan perhiasan mereka kecuali yang biasa nampak dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka”. [An Nuur:31]
“Dan katakanlah kepada wanita-wanita mukminat, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan janganlah menampakkan perhiasan mereka kecuali yang biasa nampak dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka”. [An Nuur:31]
.
Sebuah ayat yang
begitu lekat dalam ingatan kita, tentang kewajiban menutup aurat bagi para
muslimah, yaitu dengan berjilbab. Jilbab atau hijab merupakan satu ketentuan
yang telah diperintahkan oleh Sang Pembuat Syariat. Sebagai syariat yang
memiliki konsekwensi jauh ke depan, menyangkut kebahagiaan dan kemashlahatan
hidup di dunia dan akhirat bagi seluruh wanita yang mengaku muslimah.
Jadi, persoalan
jilbab bukan hanya persoalan adat ataupun mode fashion Jilbab adalah busana
universal yang harus dikenakan oleh wanita yang telah mengikrarkan keimanannya.
Telah menjadi
fitrahnya, bahwa wanita mencintai keindahan. Begitupun dalam berbusana
muslimah. Banyak diantara saudara-saudara kita sesama muslimah yang memperindah
penampilannya dalam berhijab.
Dengan
menambahkan bros, renda, macam-macam hiasan hingga model-model busana itu
sendiri yang membuat pemakainya tampak anggun dan menarik.
Ada yang tipis
namun berlapis-lapis, ada yang bertabur bordir, ada pula yang modelnya sengaja
‘ditarik’ sedemikian rupa hingga membentuk tubuh pemakainya. Tapi, adakah
batasan syari’at untuk menghiasi dan memodifikasi hijab hingga menjadi lebih
menarik?
Ada baiknya kita
mengetahui beberapa syarat-syarat yang wajib dipenuhi ketika kita berhijab,
diantaranya adalah:
Pertama :
Hendaknya menutup seluruh tubuh dan tidak menampakkan anggota tubuh sedikitpun
selain yang dikecualikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ
وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ
أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ
يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا
رَّحِيمًا {59}* لَّئِن لَّمْ يَنْتَهِ
الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ
وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ
بِهِمْ ثُمَّ لاَيُجَاوِرُونَكَ فِيهَآ
إِلاَّ قَلِيلاً
“Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin,“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang”. [Al Ahzab : 59].
“Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin,“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang”. [Al Ahzab : 59].
Kedua :
Hendaknya hijab tidak menarik perhatian pandangan laki-laki bukan mahram. Agar
hijab tidak memancing pandangan kaum laki-laki maka harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut:
Hendaknya hijab
terbuat dari kain yang tebal tidak menampakkan warna kulit tubuh.
Hendaknya hijab
tersebut longgar dan tidak menampakkan bentuk anggota tubuh.
Hendaknya hijab
tersebut bukan dijadikan sebagai perhiasan bahkan harus memiliki satu warna
bukan berbagai warna dan motif.
Hijab bukan
merupakan pakaian kebanggaan dan kesombongan.
Berdasarkan sabda
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut..
من لبس ثوب
شهرة في الدنيا ألبسه
الله ثوب مذلة يوم
القيامة ثم ألهب فيه
النار.
“Barangsiapa yang
mengenakan pakaian kesombongan di dunia maka Allah akan mengenakan pakaian
kehinaan nanti pada hari kiamat kemudian ia dibakar dalam Neraka”. [HR Abu
Daud dan Ibnu Majah, dan hadits ini hasan]
Hendaknya hijab tersebut
tidak diberi parfum atau wewangian. Dasarnya adalah hadits dari Abu Musa Al
Asy’ary Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
أَيُّماَ امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَليَ قَوْمٍ لِيَجِدوُا
رِيْحَهَافهي زَانِيَةٌ.
“Siapapun wanita
yang mengenakan wewangian lalu melewati segolongan orang agar mereka mencium
baunya, maka ia adalah wanita pezina”. [HR Abu Daud, Nasa’i dan Tirmidzi,
dan hadits ini Hasan]
Ketiga :
Hendaknya pakaian atau hijab yang dikenakan tidak menyerupai pakaian laki-laki
atau pakaian wanita kafir. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ
فَهُوَ مِنْهُمْ.
“Barangsiapa yang
menyerupai kaum maka dia termasuk bagian dari mereka”. [HR Ahmad dan Abu
Daud]
“Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutuk laki-laki yang mengenakan pakaian wanita
serta mengutuk wanita yang berpakaian seperti laki-laki.” [HR Abu daud
Nasa’i dan Ibnu Majah, dan hadits ini sahih].
Dari
syarat-syarat yang disebutkan di atas, tercakup diantaranya, “Hendaknya
hijab tidak menarik perhatian pandangan laki-laki bukan mahram.”
Lalu bagaimana
jika hijab yang kita kenakan berwarna yang menyolok mata atau dihiasi dengan
aksesoris-aksesoris yang justru mengundang pandangan orang yang melihatnya?
Dengan demikian, maka terpenuhikah syarat tidak mengundang perhatian laki-laki
tersebut?
Hendaklah kita
jujur dengan hati kita masing-masing. Kecuali jika ia memakainya hanya di
kalangan sesama wanita saja, tanpa ada laki-laki di dalamnya, maka hal tersebut
tidaklah mengapa. Asal tidak terjebak pada tabdzir (pemborosan) dan melalaikan
waktu dengan menghiasi pakaian yang kita kenakan.
Kembali kepada
tujuan kita berhijab, yaitu untuk menutup apa yang seharusnya ditutup. Jika
setelah kita tutup lalu ditonjolkan kembali dengan bentuk lain, apa gunanya
kita tutup? Lalu bagaimana dengan jilbab ‘masa kini’ yang serba ketat,
membentuk tubuh bahkan tipis dan transparan? Jelas hal tersebut tidak memenuhi
syarat di atas.
Kadang mereka,
saudara-saudara kita yang belum tahu bagaimana seharusnya berhijab sesuai
sunnah, berprinsip:
“Yang penting kan
nutup aurat.. “, “Biar pake jilbab tetep modis dong.. kan Allah itu indah
dan mencintai keindahan..”, atau bahkan “ah, pake yang gombrong dan gelap gitu,
kayak emak-emak aja.. kita kan masih muda..”.
Mereka hanya
memahami bahwa berhijab itu YANG PENTING MEMENUHI KEWAJIBAN MENUTUP AURAT.
Mau ketat kayak lepet, mau model jilbab ceker (cekik leher), mau model baju
biasa yang nggak nutup aurat trus ‘disulap’ jadi baju muslim.. yang penting
ketutup.
Ketahuilah
saudaraku, esensi hijab atau jilbab tidaklah sesempit itu. Jilbab, bukan hanya
sekedar penutup aurat. Di dalamnya terkandung maslahat yang amat banyak. Dan
karena itulah Islam mensyari’atkan wanita untuk menjaga iffah dan izzahnya
dengan hijab. Terlindungi dari mata-mata nakal (atau setidaknya meminimalisir
gangguan), menjaga kesehatan kulit dari debu dan sinar matahari, juga berfungsi
sebagai pembeda antara wanita muslimah dan wanita kuffar.
Jilbab itu
menutupi aurat, bukan membalut aurat. Jika berjilbab tapi masih ketat
disana-sini, ketahuilah.. itu bukanlah jilbab. Waspadalah kita dari kaum yang
telah Allah sebutkan akan muncul di akhir zaman, wanita-wanita yang berpakaian
tetapi telanjang…
“Pada akhir
ummatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang. Diatas
kepala mereka seperti terdapat punuk unta. Kutuklah mereka karena sebenarnya
mereka adalah kaum yang terkutuk” [HR. Ahmad 2/223. Menurut Al-Haitsami rijal
Ahmad adalah rijal shahih]
Ibnu Abdil Barr berkata:
“Yang dimaksud Nabi adalah wanita yang mengenakan pakaian tipis, yang dapat
mensifati(menggambarkan) bentuk tubuhnya dan tidak dapat menutup atau
menyembunyikannya. Mereka itu tetap berpakaian namanya akan tetapi hakekatnya
telanjang” (Dikutip oleh Imam As-Suyuti dalam Tanwirul Hawalik 3/103)
Mari kita kembali
bercermin dan mengevaluasi diri, sudah sesuai syari’atkah pakaian yang kita
kenakan? Terutama bagi saya pribadi, adik-adik saya, anak-anak saya kelak dan
juga keluarga saya. Karena Allah berfirman,
“Wahai
orang-orang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang
bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia
perintahkan kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS.
at Tahriim: 6)
Hijab
“Maka segala sesuatu yang membawa
wanita kepada perbuatan
tabarruj, nampak (perhiasan) nya, dan
tampil bedanya seorang wanita
dari para wanita lain dalam hal
mempercantik (diri), maka ini
diharamkan bagi wanita.” (Majmu’atul as-ilatin Tahummul
‘Usratal
Muslimah, hal. 10)
Berhijab, adalah perintah Allah yang mutlak
wajib diimani oleh setiap muslimah. Bagi setiap wanita yang mengikrarkan diri
sebagai muslimah, maka tidak ada keraguan sedikitpun akan wajibnya menutup
aurat dengan hijab. Berhijab adalah sebuah bentuk ketundukan, kepasrahan dan
ketaatan kepada Allah. Karena Allah yang menciptakan kitalah.. yang menyuruh
kita untuk berhijab.
Alhamdulillaah
seiring perkembangan zaman, maka jilbab makin semarak dan populer di kalangan
masyarakat. Zaman saya bersekolah dulu, masih sedikit yang berjilbab. Dan
itupun kadang agak dipersulit. Baik bagi para pelajar dan pencari kerja, ruang
gerak mereka tidaklah sebebas sekarang. Jilbab masih dipandang sesuatu yang
asing, aneh, ekstrem bahkan kampungan.
بَدَأَ
الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.” (HR. Muslim no. 208)
“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.” (HR. Muslim no. 208)
Tapi,
seiring dengan banyaknya wanita yang menutup rambutnya dengan jilbab, makin
bergeser juga arti ke-syar’i-an sebuah jilbab. Jika dulu saya
memandang jilbab panjang senior-senior saya di sekolah dengan penuh kekaguman,
kini fenomena jilbab panjang dan lebar di sekolah, kampus dan jalan-jalan itu
mulai sepi. Berganti dengan jilbab berbagai model dengan corak dan warna yang
jauh dari kriteria syar’i.
Sungguh saya
sedih melihatnya. Saya rindu akan sosok-sosok wanita berhijab lebar yang dahulu
kala ibaratnya seperti mencari jarum di tumpukan jerami, amat jarang ditemukan.
Yang dengan sempurnanya hijab itu mereka lebih dihargai dan dipandang dengan
penuh penghormatan sebagai seorang muslimah. Yang mendekati mereka pun bukan
sembarang orang. Ya, di mata saya kala itu.. nilai mereka sebagai seorang
wanita begitu mahal dan berharga..
Pakaian longgar nan elegan yang dulu
banyak dikenakan bahkan diperjuangkan dalam berbagai kegiatan di sekolah, kini
berganti dengan pakaian yang katanya busana muslim tapi serba ketat
dan minimalis. Jilbab panjang mereka pangkas, makin pendek, serba lilit
dan membentuk sanggul. Menggantinya dengan topi dibalut scarf, bahkan sampai
lehernya juga kelihatan saking transparannya. Plus atasan atau blus lengan
panjang ketat, dipadu dengan celana panjang yang juga tak kalah ketat. Tak lupa
riasan wajah untuk mempercantik penampilan. Semua atas nama fashion. Semua
dengan alasan keindahan.
Bahkan
untuk lebih ‘memperkenalkan’
jilbab pada khalayak, dibuatlah berbagai kontes bertemakan hijab modern yang
menawarkan konsep lebih cantik, tidak monoton dan penuh warna warni. Atau fashion show muslimah yang
kontestannya berlenggak lenggok di atas catwalk memperkenalkan trend terbaru
hijab masa kini.. Di depan puluhan pasang mata, baik laki-laki maupun
perempuan. Lagi-lagi mengatasnamakan da’wah kepada hijab, agar tak terkesan
kumuh dan kampungan.
“Berjilbab tapi tetap cantik
dan menarik”.
Itu slogan mereka.
Itukah hijab
yang sesungguhnya? Padahal jika mereka paham, fungsi hijab itu menutupi
keindahan, bukan malah menonjolkan. Karena keindahan itu.. adalah diri dan
pesona wanita itu sendiri yang sejatinya wajib untuk ditutupi. Padahal, esensi
hijab itu.. bukan hanya sekedar selembar kain penutup kepala dan kulit. Dalam
hijab, ada syarat-syarat yang wajib dipenuhi
Bukan Masalah Gaji Atau Bos, Ini Alasan Umum yang Buat Pekerja Resign...
Ada berbagai
alasan dibalik keputusan mengundurkan diri para karyawan. Mungkin
Anda pernah
mendengar sejumlah penyebab dramatis, mulai dari bos menyebalkan
hingga jam
kerja atau tugas yang tak masuk akal. Adapun yang pindah ke perusahaan
saingan
karena tergoda dengan penawaran gaji lebih besar.
Namun sebuah
riset terbaru mengungkapkan bila pemicu utama seorang pekerja
mengundurkan
diri ternyata lebih sederhana dan positif dari yang banyak orang
pikirkan.
Yakni karena tidak memiliki ruang untuk berkembang.
Penelitian
tersebut dilakukan oleh jejaring sosial profesional LinkedIn. Riset itu
mengungkapkan
bila alasan utama orang mengundurkan diri dari kantornya adalah
karena
masalah pengembangan karier. Artinya bahkan jika para profesional menyukai
kantor dan
menguasai bidang kerja, mereka tetap akan memilih resign jika tidak bisa naik
jabatan.
Penyebab itu dipilih sebanyak 45% dari 10.000 responden.
Hasil studi
tersebut tentu tidak sulit untuk dipercaya. Karena selain uang, para karyawan
di zaman
sekarang juga menginginkan status dalam pekerjaan. Untuk itu, ketika
ditawarkan
karier dengan jabatan yang lebih tinggi, tak sedikit pegawai yang menerima.
Selain
posisi, 74% responden yang memilih alasan itu juga mencari yang pendapatannya
lebih besar.
Penelitian
ini pun bisa dijadikan bahan pertimbangan para perekrut kerja. Karena pekerja
menginginkan
kesempatan untuk berkembang, jangan hanya menjanjikan gaji tinggi atau
fasilitas
mewah. Demi membuat calon pelamar potensial tertarik dengan penawaran kerja
Anda,
pastikan pula jika perusahaan memungkinkan mereka untuk naik jabatan.
Tak hanya
menginginkan kesempatan karier, gaya kepemimpinan atasan yang kurang
Baik ternyata juga menjadi alasan banyak pekerja mengundurkan
diri. Hal tersebut
diutarakan
oleh 41% responden. Maka dari itu, penting pula untuk memperhatikan
sikap atasan
ketika menyetujui sebuah tawaran kerja. Karena bagaimana pun, bos
sangat mempengaruhi perkembangan karier Anda ke
depannya.
sumber: http://wolipop.detik.com/
Selasa, 05 Mei 2015
Prabu Siliwangi dan Mitos Maung Dalam Masyarakat Sunda
Dalam khazanah
kebudayaan masyarakat tatar Sunda, maung atau harimau merupakan simbol yang tidak asing
lagi. Beberapa hal yang berkaitan dengan kebudayaan dan eksistensi masyarakat
Sunda dikorelasikan dengan simbol maung, baik simbol verbal maupun non-verbal seperti nama daerah
(Cimacan), simbol Komando Daerah Militer (Kodam) Siliwangi, hingga julukan bagi
klub sepak bola kebanggaan warga kota Bandung (Persib) yang sering dijuluki Maung Bandung. Lantas, bagaimana asal-muasal melekatnya
simbol maung pada masyarakat Sunda? Apa makna sesungguhnya dari simbol hewan
karnivora tersebut?
Maung dan Legenda Siliwangi
Dunia keilmuan Antropologi mengenal teori sistem simbol yang
diintrodusir oleh Clifford Geertz, seorang Antropolog Amerika. Dalam bukunya
yang berjudul Tafsir Kebudayaan (1992), Geertz menguraikan makna dibalik sistem simbol yang ada
pada suatu kebudayaan. Antropolog yang terkenal di tanah air melalui karyanya “Religion of Java” itu menyatakan bahwa sistem simbol
merefleksikan kebudayaan tertentu. Jadi, bila ingin menginterpretasi sebuah
kebudayaan maka dapat dilakukan dengan menafsirkan sistem simbolnya.
Sistem simbol sendiri merupakan salah satu dari tiga unsur
pembentuk kebudayaan. Kedua unsur lainnya adalah sistem nilai dan sistem
pengetahuan. Menurut Geertz, relasi dari ketiga sistem tersebut adalah sistem
makna (System of Meaning) yang berfungsi menginterpretasikan simbol dan, pada akhirnya,
dapat menangkap sistem nilai dan pengetahuan dalam suatu kebudayaan.
Simbol maung dalam masyarakat Sunda terkait erat dengan legenda menghilangnya (nga-hyang) Prabu Siliwangi dan Kerajaan Pajajaran yang
dipimpinnya pasca penyerbuan pasukan Islam Banten dan Cirebon yang juga
dipimpin oleh keturunan Prabu Siliwangi. Konon, untuk menghindari pertumpahan
darah dengan anak cucunya yang telah memeluk Islam, Prabu Siliwangi beserta
para pengikutnya yang masih setia memilih untuk tapadrawa di hutan sebelum akhirnya nga-hyang. Berdasarkan kepercayaan yang hidup di sebagian
masyarakat Sunda, sebelum Prabu Siliwangi nga-hyang bersama para pengikutnya, beliau meninggalkan
pesan atau wangsit yang dikemudian hari dikenal sebagai “wangsit siliwangi”.
Salah satu bunyi wangsit yang populer di kalangan masyarakat Sunda
adalah: “Lamun aing geus euweuh marengan sira, tuh deuleu tingkah polah
maung”[1]. Ada hal menarik berkaitan dengan
kata-kata dalam wangsit tersebut: kata-kata itu termasuk kategori bahasa sunda
yang kasar bila merujuk pada strata bahasa yang digunakan oleh masyarakat Sunda
Priangan (Undak Usuk Basa). Mengapa seorang raja berucap dalam bahasa yang
tergolong “kasar”? Bukti sejarah menunjukkan bahwa kemunculan undak usuk basa dalam masyarakat Sunda terjadi karena adanya
hegemoni budaya dan politik Mataram yang memang kental nuansa feodal, dan itu
baru terjadi pada abad 17—beberapa sekian abad pasca Prabu Siliwangi tiada atau nga-hyang. Namun tinjauan historis tersebut bukanlah
bertujuan melegitimasi wangsit itu sebagai kenyataan sejarah. Bagaimanapun,
masih banyak kalangan yang mempertanyakan validitas dari wangsit itu sebagai
fakta sejarah, termasuk penulis sendiri.
Wangsit, yang bagi sebagian masyarakat Sunda itu sarat dengan
filosofi kehidupan, menjadi semacam keyakinan bahwa Prabu Siliwangi telah
bermetamorfosa menjadi maung (harimau) setelah tapadrawa (bertapa hingga akhir hidup) di hutan belantara. Yang menjadi
pertanyaan besar: apakah memang pernyataan atau wangsit Siliwangi itu bermakna
sebenarnya ataukah hanya kiasan? Realitasnya, hingga kini masih banyak
masyarakat Sunda (bahkan juga yang non-Sunda) meyakini metamorfosa Prabu
Siliwangi menjadi harimau. Selain itu, wangsit tersebut juga menjadi pedoman
hidup bagi sebagian orang Sunda yang menganggap sifat-sifat maung seperti pemberani dan tegas, namun sangat
menyayangi keluarga sebagai lelaku yang harus dijalani dalam kehidupan nyata.
Dari sini kita melihat terungkapnya sistem nilai dari simbol maung dalam masyarakat Sunda. Ternyata maung yang
memiliki sifat-sifat seperti yang telah disebutkan sebelumnya menyimpan suatu
tata nilai yang terdapat pada kebudayaan masyarakat Sunda, khususnya yang
berkaitan dengan aspek perilaku (behaviour).
Kisah lain yang berkaitan dengan menjelmanya Prabu Siliwangi
menjadi harimau adalah legenda hutan Sancang atau leuweung Sancang di Kabupaten
Garut. Konon di hutan inilah Prabu Siliwangi beserta para loyalisnya menjelma
menjadi harimau atau maung.
Proses penjelmaannya pun terdapat dalam beragam versi. Seperti yang telah
disinggung sebelumnya, ada yang mengatakan bahwa Prabu Siliwangi menjelma menjadi
maung setelah menjalani tapadrawa. Tetapi ada pula sebagian masyarakat Sunda
yang berkeyakinan bila Prabu Siliwangi dan para pengikutnya menjadi harimau
karena keteguhan pendirian mereka untuk tidak memeluk agama Islam. Menurut
kisah tersebut, Prabu Siliwangi menolak bujukan putranya yang telah menjadi
Muslim, Kian Santang, untuk turut memeluk agama Islam. Keteguhan sikap itu yang
mendorong penjelmaan Prabu Siliwangi dan para pengikutnya menjadi maung.
Akhirnya, Prabu Siliwangi pun berubah menjadi harimau putih, sedangkan para
pengikutnya menjelma menjadi harimau loreng.
Hingga kini kisah harimau putih sebagai penjelmaan Siliwangi itu
masih dipercayai kebenarannya oleh masyarakat di sekitar hutan Sancang. Bahkan,
kisah ini menjadi semacam kearifan lokal (local wisdom). Menurut masyarakat di sekitar hutan, bila ada pengunjung
hutan yang berperilaku buruk dan merusak kondisi ekologis hutan, maka ia
akan “berhadapan” dengan harimau putih yang tak lain adalah Prabu Siliwangi.
Tidak masuk akal memang, namun di sisi lain, hal demikian dapat dipandang
sebagai sistem pengetahuan masyarakat yang berhubungan dengan ekologi.
Masyarakat leuweung Sancang telah menyadari arti pentingnya keseimbangan
ekosistem kehutanan, sehingga diperlukan instrumen pengendali perilaku manusia
yang seringkali berhasrat merusak alam. Dan mitos harimau putih jelmaan
Siliwangi lah yang menjadi instrumen kontrol sosial tersebut.
Namun, serangkaian kisah yang mendeskripsikan korelasi antara
Prabu Siliwangi dengan mitos maung itu tetap saja menyisakan pertanyaan besar,
apakah itu semua merupakan fakta sejarah? Siapa Prabu Siliwangi sebenarnya dan
darimanakah mitos maung itu muncul pertama kali?
Kekeliruan Tafsir
Bila kita telusuri secara mendalam, niscaya tidak akan ditemukan
bukti sejarah yang menghubungkan Prabu Siliwangi atau Kerajaan Pajajaran dengan
simbol harimau. Adapun yang mengatakan bahwa harimau pernah menjadi simbol
Pajajaran adalah salah satu tokoh Sunda sekaligus orang dekat Otto
Iskandardinata (Pahlawan Nasional), Dadang Ibnu. Tetapi, lagi-lagi, tidak ada
bukti sejarah Sunda yang dapat memperkuat hipotesa ini, baik itu Carita
Parahyangan, Siksakanda Karesian, ataupun Wangsakerta. Bahkan mengenai lambang
Kerajaan Pajajaran pun masih debatable, dikarenakan ada beragam versi lain yang mengemuka menyangkut
lambang Pajajaran.[2]
Problem lain yang muncul berkaitan dengan kebenaran sejarah “maung
Siliwangi” tersebut ialah rentang waktu yang cukup jauh antara masa ketika
Prabu Siliwangi hidup dan memerintah dengan runtuhnya Kerajaan Pajajaran yang
dalam mitos maung berakhir dengan penjelmaan Siliwangi dan para pengikut
Pajajaran menjadi harimau di hutan Sancang. Penting untuk diketahui bahwa
secara etimologis, Siliwangi, yang terdiri dari dua suku kata yaitu Silih
(pengganti) dan Wangi, bermakna sebagai pengganti Prabu Wangi. Menurut para
pujangga Sunda di masa lampau, Prabu Wangi merupakan julukan bagi Prabu Niskala
Wastukancana yang berkuasa di Kerajaan Sunda-Galuh (ketika itu belum bernama
Pajajaran) pada tahun 1371-1475. Lalu, nama Siliwangi yang berarti pengganti
Prabu Wangi merupakan julukan bagi Prabu Jayadewata, cucu Prabu Wastukancana.
Prabu Jayadewata yang berkuasa pada periode 1482-1521 dianggap mewarisi
kebesaran Wastukancana oleh karena berhasil mempersatukan kembali Sunda-Galuh
dalam satu naungan kerajaan Pajajaran.[3] Sebelum Prabu Jayadewata berkuasa, Kerajaan Sunda-Galuh sempat
terpecah. Putra Wastukancana (sekaligus ayah Prabu Jayadewata), Prabu Dewa
Niskala, hanya menjadi penguasa kerajaan Galuh.
Dipersatukannya kembali Sunda dan Galuh oleh Jayadewata, membuat
beliau dipandang mewarisi kebesaran kakeknya, Prabu Wastukancana alias Prabu
Wangi. Maka, para sastrawan atau pujangga Sunda ketika itu memberikan gelar
Siliwangi bagi Prabu Jayadewata. Siliwangi memiliki arti pengganti atau pewaris
Prabu Wangi. Jadi, raja Sunda Pajajaran yang dimaksud dalam sejarah sebagai
Prabu Siliwangi adalah Prabu Jayadewata yang berkuasa dari tahun 1482-1521.
Lalu kapan sebenarnya Kerajaan Pajajaran runtuh? Apakah pada masa
Prabu Jayadewata atau Siliwangi? Ternyata, sejarah mencatat ada lima raja lagi
yang memerintah sepeninggal Prabu Jayadewata.[4] Berikut ini periodisasi penerintahan raja-raja Pajajaran pasca
wafatnya Jayadewata alias Siliwangi :
1.) Prabu Surawisesa (1521-1535)
2.) Prabu Ratu Dewata (1535-1543)
3.) Ratu Sakti (1543-1551)
4.) Prabu Nilakendra (1551-1567)
5.) Prabu Raga Mulya (1567-1579)
Pada masa pemerintahan Raga Mulya lah, tepatnya tahun 1579,
Kerajaan Pajajaran mengalami kehancuran akibat serangan pasukan Kesultanan
Banten yang dipimpin Maulana Yusuf.[5] Peristiwa tersebut tercatat dalam Pustaka Rajyarajya Bhumi Nusantara parwa III sarga I halaman 219, sebagai berikut :
Pajajaran sirna ing bhumi ing ekadaci cuklapaksa
Wesakhamasa saharsa punjul siki ikang cakakala.
Artinya :
Pajajaran lenyap dari muka bumi tanggal 11 bagian terang bulan
Wesaka tahun 1501 Saka atau tanggal 8 Mei 1579 M.
Kemudian bagaimana nasib Prabu Mulya? Sumber yang sama menyatakan
bahwa Prabu Raga Mulya beserta para pengikutnya yang setia tewas dalam
pertempuran mempertahankan ibukota Pajajaran yang ketika itu telah berpindah ke
Pulasari, kawasan Pandeglang sekarang. Fakta sejarah tersebut menunjukkan bahwa
keruntuhan kerajaan Pajajaran terjadi pada tahun 1579 atau 58 tahun setelah
Prabu Siliwangi wafat. Berarti Prabu Siliwangi tidak pernah mengalami
keruntuhan Kerajaan yang telah dipersatukannya. Raja yang mengalami kehancuran
Kerajaan Pajajaran adalah Prabu Raga Mulya yang merupakan keturunan kelima
Prabu Siliwangi atau janggawareng[6] nya Prabu Siliwangi. Sementara Prabu Raga Mulya sendiri gugur
dalam perang mempertahankan kedaulatan negerinya dari agresi Banten. Jadi, raja
Pajajaran terakhir ini memang nga-hyang, namun bukan menjadi maung sebagaimana
diyakini masyarakat Sunda selama ini melainkan gugur di medan tempur. Dari
serangkaian bukti sejarah tersebut dapat disimpulkan bahwa mitos penjelmaan
Prabu Siliwangi dan sisa-sisa prajurit Pajajaran menjadi harimau hanya sekedar
mitos dan bukan fakta sejarah.
Bila bukan fakta sejarah, darimana sebenarnya mitos maung yang
selalu melekat pada kisah Siliwangi dan Pajajaran itu berasal? Pertanyaan ini
dapat menemukan titik terang bila meninjau laporan ekspedisi seorang peneliti
Belanda, Scipio, kepada Gubernur Jenderal VOC, Joanes Camphuijs, mengenai jejak
sejarah istana Kerajaan Pajajaran di kawasan Pakuan (daerah Batutulis Bogor
sekarang). Laporan penelitian yang ditulis pada tanggal 23 Desember 1687
tersebut berbunyi “dat hetselve paleijs en specialijck de verheven
zitplaets van den getal tijgers bewaakt ent bewaart wort”, yang artinya: bahwa istana tersebut terutama
sekali tempat duduk yang ditinggikan untuk raja “Jawa” Pajajaran sekarang masih
berkabut dan dijaga serta dirawat oleh sejumlah besar harimau. Bahkan kabarnya
salah satu anggota tim ekspedisi Scipio pun menjadi korban terkaman harimau
ketika sedang melakukan tugasnya.
Temuan lapangan ekspedisi Scipio itu mengindikasikan bahwa kawasan
Pakuan yang ratusan tahun sebelumnya merupakan pusat kerajaan Pajajaran telah
berubah menjadi sarang harimau. Hal inilah yang menimbulkan mitos-mitos
bernuansa mistis di kalangan penduduk sekitar Pakuan mengenai hubungan antara
keberadaan harimau dan hilangnya Kerajaan Pajajaran. Berbasiskan pada laporan Scipio ini, dapat
disimpulkan bila mitos maung lahir karena adanya kekeliruan sebagian masyarakat dalam
menafsirkan realitas.
Sesungguhnya, keberadaan harimau di pusat Kerajaan Pajajaran
bukanlah hal yang aneh, mengingat kawasan tersebut sudah tidak berpenghuni
pasca ditinggalkan sebagian besar penduduknya di penghujung masa kekuasaan
Prabu Nilakendra—ratusan tahun sebelum tim Scipio melakukan ekspedisi
penelitian.[7] Sepeninggal para penduduk dan petinggi kerajaan, wilayah Pakuan
berangsur-angsur menjadi hutan. Bukanlah suatu hal yang aneh bila akhirnya
banyak harimau bercokol di kawasan yang telah berubah rupa menjadi leuweung tersebut.
Kesimpulan
Mitos maung yang dilekatkan pada sejarah Prabu Siliwangi dan
Kerajaan Pajajaran pun sudah terpatahkan oleh serangkaian bukti dan catatan
sejarah yang telah penulis uraikan. Memang sebagai sebuah sistem simbol, maung telah melekat pada kebudayaan masyarakat Sunda.
Simbol dan mitos maung juga menyimpan filosofi serta berfungsi sebagai sistem pengetahuan
masyarakat berkaitan dengan lingkungan alam. Hal demikian tentu harus kita
apresiasi sebagai sebuah kearifan lokal masyarakat Sunda.
Namun sebagai sebuah fakta sejarah, identifikasi maung sebagai
jelmaan Prabu Siliwangi dan pengikutnya merupakan kekeliruan dalam menafsirkan
sejarah. Hal inilah yang perlu diluruskan agar generasi berikutnya, khususnya
generasi baru etnis Sunda, tidak memiliki persepsi yang keliru dengan
menganggap mitos maung Siliwangi sebagai realitas sejarah.
Kekeliruan mitos maung hanya salah satu dari sekian banyak
”pembengkokkan” sejarah di negeri ini yang perlu diluruskan. Hendaknya kita
jangan takut menerima realitas sejarah yang mungkin berlawanan dengan keyakinan
kita selama ini, karena sebuah bangsa yang tidak takut melihat kebenaran masa
lalu dan berani memperbaikinya demi melangkah menuju masa depan akan menjelma
menjadi bangsa yang memiliki kepribadian tangguh. Terima kasih.
Sampurasun..
HISKI DARMAYANA, Kader Gerakan Mahasiswa
Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Sumedang dan Alumni Antropologi FISIP
Universitas Padjadjaran.
[1] Kisah mengenai wangsit ini telah menjadi semacam kisah yang
sifatnya “tutur tinular” dari generasi ke generasi dalam masyarakat Sunda.
Sehingga sulit dilacak dari mana sebenarnya cerita mengenai wangsit ini
bermula.
[2] Sebagian kalangan berkeyakinan lambang Pajajaran adalah burung
gagak (kini menjadi lambang salah satu perguruan silat di Jawa Barat,
Tajimalela). Sementara ada pula yang berpendapat bahwa gajah adalah simbol
Pajajaran yang sebenarnya.
[3] Nama Siliwangi sudah muncul di Kropak 630, semacam karya sastra Sunda berjenis pantun
pada masa Prabu Jayadewata berkuasa. Seperti halnya nama Prabu Wangi, Siliwangi
juga diciptakan oleh para pujangga Sunda sebagai julukan atau gelar bagi Prabu
Jayadewata. Selain Siliwangi, Prabu Jayadewata juga mendapat gelar lain, yakni
Sri Baduga Maharaja.
[4] Terdapat dalam naskah Carita Parahyangan. Naskah ini mendokumentasikan kehidupan
Kerajaan Sunda-Galuh hingga Pajajaran dari berbagai aspek, seperti politik dan
ekonomi.
[7] Hal ini diceritakan dalam naskah Carita Parahyangan. Migrasi besar-besaran tersebut dilakukan untuk
menghindari serangan Pasukan Banten yang sangat gencar. Sementara strategi
pertahanan Prabu Nilakendra amat lemah dan tidak mampu membendung agresi
Banten.
Sumber Artikel: http://www.berdikarionline.com/


.jpg)