Kamis, 31 Agustus 2017

Bukannya Sudah Bosan, Kami Kadang Memang Butuh Waktu Buat Sendiri. Cewek Tolong Mengerti

Pada dasarnya, baik cowok maupun cewek butuh waktu khusus untuk dirinya sendiri. Apapun alasannya, mereka perlu untuk diberi kebebasan tanpa terikat dengan orang lain. Berbeda dengan cewek, cowok punya kecenderungan yang lebih besar untuk bisa ‘lepas’ dari keterikatan dengan seseorang, terutama pasangan. Nah lho, nyengir ‘kan?

Sayangnya, seringkali si cewek langsung panik ketika cowoknya secara tiba-tiba menarik diri dan menjauh. Alasannya bisa bermacam-macam, mulai dari keluarga, pekerjaan atau karena sudah mendapatkan “apa yang diinginkannya”. Sampai di titik ini, kisah cinta yang begitu indah akan seketika berubah.


Banyak pertanyaan yang muncul atas karakter cowok yang satu ini. Kenapa sih cowok tiba-tiba menarik diri? Kenapa sih cowok justru menjauh di saat yang nggak tepat? Nah, ini dia alasan kuat yang bikin “me time” seorang cowok nggak bisa diganggu gugat.

image search by google
  • Ketika terlalu mesra dan kehilangan jati diri, ini waktunya cowok untuk menyendiri. 
  • Seiring dengan berjalannya waktu, di saat kemesraan cowok dengan pasangannya mencapai puncaknya, secara tiba-tiba cowok akan merasa kehilangan jati dirinya. Hal ini dirasakan cowok seperti ada yang mengganjal dalam hatinya yang bahkan dia sendiri nggak tahu penyebabnya. Di saat itulah cowok perlu untuk menyendiri, mencari jawaban atas kegundahan hati.
  • Ini adalah siklus cinta cowok, maju-mundur dengan kekuatan penuh.

  • Ketika seorang cowok jatuh cinta, maka dia akan berusaha mendapatkan dambaan hatinya. Dia menelepon, memberi hadiah, memperhatikan, dan mengajak kencan. Ketika si cewek menerima cintanya, si cowok pelan-pelan menarik dirinya untuk memuaskan kebutuhannya akan kebebasan.

Dalam hubungan cinta, cowok diibaratkan dengan karet gelang. Molor dan mengerut kembali pada waktunya. Molor sampai batas maksimal, kemudian mengerut kembali dengan kekuatan maksimal pula. Siklus ini meliputi mendekat, menarik diri, lalu mendekat lagi. Atau maju, mundur, maju, mundur, maju, mundur seumur hidup mereka
Setelah puas memisahkan diri, secara tiba-tiba dia merasakan kebutuhan akan cinta dan kehangatan. Saat cowok mendekat kembali, dia akan melanjutkan hubungan pada tingkat kehangatan yang sama dengan saat dia menarik diri. Si cowok nggak merasa perlu mengulangi hubungan dari awal lagi. Ajaib, bukan?

Cowok adalah makhluk yang aktif, dia nggak bisa hidup dengan cewek yang terlalu posesif.

Cowok diciptakan sebagai makhluk yang aktif. Dia nggak bisa melakukan hal-hal yang monoton secara terus menerus, apalagi harus selalu bersama ceweknya. Cowok perlu diberi kebebasan untuk melakukan aktivitasnya sebagai cowok. Dia butuh waktu untuk bermain game, nonton bola, menggeluti hobi atau sekedar nongkrong dengan teman-teman cowoknya.

Percaya atau nggak, otak pria kurang aktif jika berada di sekitar pasangannya

Jika hal-hal ini nggak bisa terpenuhi, maka si cowok akan berontak dan justru membuat hubungannya dengan pasangan menjadi kritis, duh!

Jangan heran kalau cowok tiba-tiba hilang ditelan bumi, itu tandanya dia sudah bosan dan frustrasi

Menurut Allan & Barbara Pease, pakar perkawinan sekaligus penulis buku Why Men Don t Listen & Women Can t Read Maps, ego cewek untuk selalu disayang, dimanja, dan menjadi prioritas, membuatnya nggak rela saat pasangannya melakukan kegiatan lain tanpa menyertakan dirinya. Anggapan ini berbeda jauh dengan karakter pria yang secara periodik membutuhkan sejenis pelarian untuk menyendiri.

Ketika merasa bosan atau dilanda masalah yang berujung frustrasi, cowok akan menghilang seketika. Dia merasa dia harus menyelesaikan masalahnya sendiri yang nggak bisa dibagi dengan orang lain, termasuk pasangannya sekalipun, nggak peduli seberapa besar cintanya pada pasangannya.

Menarik diri menjadi naluri alamiah yang dimiliki cowok yang nggak bisa dihindari. Sama seperti orang lapar, cowok nggak bisa meminta rasa lapar, melainkan muncul sendiri tanpa dia mengerti. Bukan berarti cowok yang menarik diri itu selingkuh. Jadi, masih insecure dan mau neror cowok yang lagi butuh sendiri?



Kamis, 06 Juli 2017

image search by google

"Berjuang pada akhirnya bukan selalu tentang memenangkan. Tapi memaknai setiap proses yang dilalui."


— Aku pernah berjuang, dan yang selama ini aku kira berjuang akan selalu berujung dengan mendapatkan apa yang diperjuangkan. Tapi nampaknya aku salah, beberapa kali berjuang, yang aku dapatkan tidak selalu sama dengan yang aku harapkan. Mungkin kiranya memang benar, pada akhirnya yang kita syukuri bukan terletak pada hasilnya. Tapi bagaimana kita menjalani proses perjuangannya dan bahagia dengan kenangan yang tercipta saat melakukannya.

Selasa, 13 Juni 2017

Hanya Sementara...

image search by google


Aku bosan terus-terusan terjerumus dalam rasa kehilangan. Apalagi jika kamulah penggerak di balik setiap alasan. Aku pun bosan harus memakan kata-kata manismu, hasil pelarian dari pahit yang mampir dalam hidupmu.

Jika ada dia, aku harus sukarela menyingkir. Jika tidak ada dia, aku diharuskan hadir. Pelampiasan atau sebuah permainan? Atau aku yang terlalu bodoh tak bisa melihat batas harapan dan kenyataan?

Kakiku berlari menjauhi titik-titik pencipta luka. Tapi saat aku nyaris mantap untuk pergi dari arenamu, ada saja tarikan-tarikan penggoda untuk tetap disana.

Pada langkah yang hampir terhenti, kamu ada. Pada harap yang perlahan memudar, kamu hadir. Tersisalah aku dengan sebuah keadaan, di mana arah yang semestinya kutuju masih samar. Entah harus terus berjuang atau memang tak perlu keluar sebagai pemenang. Kebahagiaanku masih terombang-ambing, aku terpaksa mengikuti ke manapun ia ditempatkan.

Pada kepulanganmu yang berulang, ada kata selamat tinggal yang siap-siap kembali kujelang. Kata selamat tinggal yang kuharap tak pernah lagi kudengar. Aku ingin kamu tetap di sini, mencipta bahagia dari dua sisi—bukan mencari bahagia kita sendiri-sendiri.

Akankah semua inginku hanya sanggup menjadi angan? Tak bisakah segalanya jadi kenyataan? Sebab rasa ini nyata, namun kedekatan kita hanya sebatas ini saja.

Setelah berperang dengan dirimu yang dirasuki perubahan, akhirnya kamupun pulang. Satu sapa pun bisa merapikan keretakan yang sempat tercipta. Satu senyum yang tulus darimu pun meluluhkan kaki yang nyaris melangkah dengan tekad serius. Angan terus berlanjut, tanpa ada kepastian yang bergelayut.

Seandainya tidak ada dia, apakah kamu akan memperjuangkan kita? Ketidakpastian semakin terlihat jelas, terutama saat percakapanmu dengannya belum berhenti. Aku takut jika nanti tumbuh cinta yang lebih besar lagi. Lalu kapan waktuku untuk menyediakan cinta? Lalu kapan seutuhnya kamu ada buatku?

Mengapa kamu pulang hanya untuk singgah, kemudian justru pergi lagi?

Mengapa kamu ke sini, namun sangat terlihat jelas bahwa dengannya kamu masih jatuh hati?

Sepasang mata ini mengharap temu, kedua tangan ini mendambamu. Sebab kebahagiaan terasa utuh dan sederhana kala kita bersama. Sebab senyuman tak sanggup terkata di saat kita berjumpa. Tidak bisa kamu di sisi untuk selamanya? Lalu tetapkan pilihanmu sehingga tak perlu ada angan yang merasa dimainkan.

Titik akhirnya, memang aku yang harus selalu rela. Datang dan pergimu hanya repitisi percuma yang entah mengapa tetap saja mampu membuat bahagia. Sederhananya, bahagiaku tertitip di kamu. Jika kamu menuju arah yang bukan aku, begitupun bahagiaku menjauh. Entah hingga kapan harus terikat padamu. Sebab jatuh hati ini telah terlanjur, tak mungkin aku bisa mundur.

Izinkan aku membuktikan bahwa hati ini pun berhak disuguhi kesempatan.Dengan ramuan rasa sederhana, aku akan membangunkanmu dari hibernasi lelahnya kepercayaan hati. Aku akan melahapmu separuh, biar kamu tahu ke mana ruang itu kau berikan dengan utuh. Aku menunggu sampai kamu mengandalkanku bukan hanya saat butuh, tapi karena akulah prioritas bahagiamu terisi penuh. Itu bukan keinginan yang muluk-muluk, kan?


Kebahagiaanku kini masih bertumpu pada ketidakpastian. Entah kapan, tapi pasti kita akan bahagia dengan pelengkap pilihan Tuhan. Tapi untuk sekarang, do’aku masih menyelipkan namamu sebagai penghantar kebahagiaan.

Bersyukur (For my Self)

Dengan merasa bersyukur atas kesempatan hidup yang masih diberikan hingga saat ini.

Tanpa masa lalu, kamu engga mungkin akan menjadi kamu yang sekarang. Kesalahan diri di masa lalu bukan sesuatu hal yang berlama-lama harus disesali, tapi cukup dijadikan pelajaran supaya tidak mengulanginya di hari sekarang. Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan, semua orang bisa untuk merasa bersalah dan menyesal, tapi sedikit orang yang bisa dengan ikhlas menerima kesalahan itu sebagai proses pendewasaannya, sebagai proses alami yang memang harus dia jalani untuk di kemudian hari.


Bersyukurlah untuk napas yang masih bisa dihirup di hari ini. Berterima kasihlah pada masa lalu yang tidak baik. Dan berjanjilah untuk membenahi apa yang masih harus dibenahi selagi masih memiliki waktu. Nikmatilah waktumu saat ini, lakukan kegiatan apa pun dengan sebaik dan semaksimal mungkin jika kamu ingin hari esok tidak lagi kamu sesali. Semangat ya :)

image by google


*Ngomong sama diri sendiri hahaha..

Kamis, 16 Maret 2017

Takdir

images by google

Takdir? Ia kah juru kunci pemberi dan pemberhenti setiap fungsi hati saat cinta mengalir? Sekuat itukah kehadirannya hingga kini aku masih menunggu saat ia tiba?

Dari begitu banyak peristiwa, takdir telah ada. Bukankah saat pertama aku bertemu dengan objek yang kini melebatkan rindu, takdir juga ikut hadir? Salahkah jika aku masih menunggu keberadaan takdir? Apa takdir absen untuk mampir dalam perjalanan sampai cerita ini berakhir?

Padanya telah kupercayakan rasa yang sejak awal masih saja ada. Padanya aku tahu, kelak akan dipertemukan dengan yang benar-benar sudah menungguku. Tapi kini, giliran aku yang sedang menunggunya datang, tapi bukan ke arah sini. Datanglah menuju kepada ia yang aku cinta, lalu sama-ratakan rasa yang kami punya.

Ketika takdir telah menuntun, tak ada kuasa kita untuk mencegah rasa itu datang berkunjung. Hati berdo’a, semoga ia tak jatuh sendirian. Semoga milikmu pun terjatuh bersamaan. Kemudian saat ini, kuharap sebenarnya kita tengah saling menunggu kesempatan. Sebab ada debar yang tak mampu kujelaskan, namun cukup sanggup membangkitkan rindu tak berkesudahan.

Mungkin kamu tak akan pernah mengetahui, betapa sebuah hati sedang dikelabui perasaannya sendiri. Mungkin kamu juga tak akan pernah menyadari, betapa sebuah hati sedang berjuang melawan logika, agar denganmu ia bisa bersama. Menumbuhkan debar di dadaku itu terlalu mudah, yang sulit adalah menebak dengan benar ke mana langkahmu itu terarah. Apakah kepadaku? Ataukah kepada yang bukan aku?

Senyummu itu kunci jawabnya, namun tak pernah kamu menatap sepasang mataku yang bertanya-tanya.
Bagaimanakah mengambil hati sang takdir agar nama kitalah yang dipasangkan sebagai dua yang nantinya takkan terpisahkan?

Jika saja waktu bisa membantu mempercepat gerakmu untuk menuju ke tempatku, mungkin ini akan menjadi kerja sama termanis yang pernah ada. Memang perlu ada beberapa kerjasama untuk menyatukan kita selain lewat doa. Setidaknya aku ingin meminta agar ketika gelas berisikan nama-nama yang nantinya terkocok akan keluar sebuah kita. Lalu dengan sendirinya rinduku akan mencolek pipimu dan menyadarkanmu bahwa ia perlu teman. Membayangkan beberapa hal tentang kita yang masih berbungkus sebuah pinta dalam plastik sederhana sangatlah menenangkan jiwa. Aku bahagia, bahkan sebelum saat itu tiba.

Pada hari-hari yang juga sudah kulewatkan, ada harapan tentang kesamaan perasaan. Di waktu-waktu yang diisi kesunyian, ada keinginan agar kita bisa bersama menjalani keseharian. Bertemankan rindu tak juga membuatku akrab dengan waktu. Menunggu bukanlah kemampuan atau juga kemauanku. Tapi entahlah aku selalu memberikan pengecualian untuk segala yang tentang kamu.

Tak pernah terpikir olehku, bagaimana bisa sebuah kejadian biasa kelak akan membuatku luar biasa menginginkanmu? Dari situ, kukira cinta adalah sebuah permainan antara dua takdir yang berpapasan. Mereka beradu debar di lapang dada masing-masing. Namun anehnya, siapapun yang paling pintar menjaga debar dengan sabar, tetap akan pulang membawa hadiah penasaran.
Andai mempertemukan dua hati dalam cinta semudah cerita-cerita bahagia, tak mungkin kiranya aku cemas akan luka yang bisa datang kapan saja. Namun kita hanyalah sepasang yang mudah terbawa takdir, sulit bagi hati kita untuk saling menafsir.

Hati begitu mudah dibawa naik turun pergi dengan berbagai presepsi dan prediksi. Siapa lagi jika bukan kamu sebagai dalam dibalik setiap pengecualian dan pengendalian hatiku?

Aku tak bisa menyalahkan sesiapa, bahkan takdir pun telah diberikan pembebasan dari suatu kesalahan oleh Tuhan. Aku hanya salah satu dari milyaran manusia yang menaruh percaya pada cinta diatas segala ketidakpastian yang ada. Buatku, hati akan selalu berperkara asalkan masih ada segenggam percaya.

Jika suatu saat, kamu terpanggil oleh takdir, kuharap cinta juga sudah bersamamu ikut mengalir. Lalu terlahir lah sepasang kembaran perasaan. Namun jika memang aku masih harus menunggu, semoga lama tidak perlu menjadi sebuah penghalang bagiku.

Semoga angin akan mengarahkanmu menjadi sedekat yang aku ingin. Semoga takdir akan membawamu kepadaku seperti yang aku mau. Tentang harap yang tak mengenal kata lenyap, mudah-mudahan akan ada saatnya untuk kita menyatukan perasaan.

Kuharap senyuman yang aku miliki mampu memberikan getaran yang sama seperti yang kamu punya. Kuharap kehadiranku dapat menjadi sesuatu yang juga sedang kamu tunggu-tunggu. Kuharap permintaanku tidaklah begitu keterlaluan untuk bisa Tuhan kabulkan.


Dari balik sekat kaca pemisah takdir kita, aku memanggilmu mendekat. Berharap, berdoa, berupaya, agar cintaku sampai dengan selamat, di alamat yang tepat; hatimu. Semoga kiranya Tuhan bersedia memberi kata ‘iya’, agar tumpukan rindu serta penantian-penantianku, tak akan sia-sia.

Bisu Sendiri


Kornea hatimu terlalu buta, tak bisa melihat sisi hatiku yang terlupa sekaligus terluka. Aku tahu, dengan memperbanyak tanya dalam kepala tanpa mengeluarkan suara adalah wujud upaya sia-sia. Jika saja ada cara untuk menyadarkanmu tentang apa yang tersimpan tanpa menetaskan keberanian. Karena kini aku begitu takut, perasaanmu telah menciut. Aku butuh kekuatan telepati, agar peristiwa mendewasanya hati bisa juga kau alami. Agar bisa kau rasakan apa yang kurasakan dari sisi hati.

image search by google


Tak mudah merasakan segalanya seorang diri, sementara sesungguhnya segala hal tentangmu ingin kubagi. Jangan salahkan hati yang tak mampu beritakan padamu tentang apa-apa. Sebab aku terlalu takut terluka jika yang nantinya kau beri hanya kecewa.

Apa rasanya jadi kamu, sesosok yang tak pernah luput dari daya ingatku? Apa rasanya jadi kamu, seseorang yang kusayang dengan terlalu? Apa rasanya jadi kamu, yang tak pernah tahu ada aku setia menunggu?

Ada seorang pengagum yang dengan sangat baik memendam rahasia tentang perasaannya. Ada yang dengan begitu rapi menyembunyikan diri sehingga tidak mudah terlihat oleh mata. Ada yang mendoakan kebahagiaanmu meski terjadi bukan karenanya. Ada yang berandai-andai jika saja kamu tahu siapa yang telah membuatnya jatuh cinta. Namun ia tahu, ia sedang berharap pada sebuah ketidakmungkinan.

Harus berguru pada siapakah hati agar ia berani mengungkapkan opini? Harus berguru pada siapakah kamu agar rajin mengisi hati dengan namaku? Harus berguru pada siapakah kita agar sama-sama bisa menjaga hati tanpa melukai? Seandainya ada yang bisa mengoreksi kerja hati kita. Pasti kita tak jalan bersilangan seperti dua yang dipenuhi keasingan.

Sebuah bisu kupelihara dalam bisingnya aksara di kepalaku. Ingin diutarakan, namun ragu menghalangi jalan. Ingin dipendam sendirian, namun entah hingga kapan bisa bertahan.

Harus bagaimana agar akal tak sibuk mencari jalan keluar dari isi kepala sendiri? Betapa berkata apa adanya itu sulit, sesulit menghadapi ketakutan kelak tak akan diterima apa adanya.

Bukankah ini perihal mulut yang enggan mengungkap dan kamu yang tidak juga peka? Adilkah ketika aku bertanya di mana semesta saat aku sedang benar-benar berharap pada sebuah kebetulan?


Ah sudahlah, kini biarkan aku memberi pengertian untuk diri sendiri, bahwa mungkin saja aku telah salah menentukan arah. Mungkin saja menunggu adalah jawaban terbaik, meski tidak sepenuhnya membuat keadaanku membaik.

Rabu, 08 Februari 2017

(Terpaksa) Selesai

Hari ini tak ada yang berbeda, semua masih serba serupa. Aku yang masih mengingat dan menginginkan kita, serta kamu yang masih jauh di mata, namun hatiku belum sanggup mengakhiri semua cerita.

Jika boleh aku ingin meminta, sisakan untukku cintamu itu. jangan percuma kamu berikan pada mereka yang tak lebih menginginkannya dari aku. Jika boleh berjanji untuk waktu yang nantinya akan kita lewati, aku hanya bisa memegang satu janji. Takkan kusia-siakan cintamu, kan kulipat gandakan menjadi sekumpulan rasa pemberi kebahagiaan.


ilustrasi gambar by google


Tapi, sayangnya apa yang kulihat sampai hari ini belum pasti. Inginku masih berupa angan, kamu yang menentukan. Seandainya saja ada beberapa kenangan menyedihkan yang dapat sekejap saja kulupakan. Seandainya saja ada beberapa tangisan yang masih bisa kutahan. Seandainya saja ada perasaan yang bisa kuubah untuk tak lagi mengharap balasan. Karena hati yang selama ini masih kutuju, entah kali ini sedang mengharapkan siapa, entah kali ini sedang memikirkan apa.

Bukan tak pernah aku ingin membuka pintu pada hati yang lain, namun percuma jika kuncinya masih padamu kutitipkan. Bisakah kamu, untuk sekali saja, ajarkan aku caranya melarikan diri dari kenangan? Agar aku paham bahwa kenangan memang hanya boleh dianggap sebagai kenang-kenangan dari masa lalu. Agar aku paham bahwa tak baik mengharapkan untuk terus bersamamu seperti dulu.

Bukannya aku tak pernah mengindar, tapi kamu selalu tiba dan menahanku untuk keluar. Kadang aku heran dengan teka-teki yang Tuhan berikan. Jika memang ujungnya kita tak bersama, mengapa Tuhan masih memberikan temu yang bernyawa membangitkan angan-angan untuk bersatu? Hati sudah terlalu sakit diberikan resep-resep palsu untuk berhenti mencintaimu. Entah siapa yang bisa mengajariku mengentikan rasa itu.

Adakah yang sanggup mengajariku, bagaimana caranya agar tak selalu menyalahkan? Karena menjadi benar pun tak selalu bisa mengubah keadaan.

Kisah kita yang telah lalu mungkin bukan untuk dilupakan, karena sudah berkali-kali kuusahakan. Di benak ini, sudah ada tempat khusus untuknya agar selalu menjadi kenangan terindah. Untuk seterusnya, semoga kedekatan kita tak begitu berubah. Yang aku ingin hanya bisa mengikhlaskan, jika melupakan begitu mustahil dilakukan. Yang aku harap hanya bahagia yang kembali nyata, meski harus dilalui tanpa sebuah ‘kita’. Harus kamu pahami bahwa mencintamu dari jarak sejauh ini, aku tak pernah sekalipun menyesali. Sebab dalam cinta, aku memang pandai memberi. Namun untuk menerima kenyataan, aku harus banyak belajar lagi.

Terkadang aku tersentak dengan berbagai kecewaan dari secuil apa yang kau lakukan. Kamu tak pernah tahu bukan? Dan aku tak ingin menyalahkanmu atas ketidaktahuanmu. Karena beginilah kita, selalu diisi oleh tanpa yang melahirkan hampa. Beginilah kita, mungkin lebih baik berpecah jadi dua yang tak saling mengusik. Aku benci dengan segala fakta-fakta itu. Fakta bahwa bukan aku sosok yang nantinya akan melengkapimu. Tapi mana bisa aku memanjati dan berlari dari kenyataan yang sudah dihidangi? Aku harus menerima bahagia yang dikirimi sesuai porsi, meski pindah ke lain hati adalah salah satu hal yang sulit terbayangi oleh diri.

Sekarang aku mengerti, bahwa kita yang dulu kini telah berubah. Walau masih belum mampu aku untuk tak mengenang segala kisah yang telah berlalu dengan indah. Entah di mana kamu temukan rumahmu, aku masih saja menunggu bersama khayalan semu. Aku masih saja berharap, bahwa suatu hari nanti kita akan bersama lagi. Aku masih saja ingin, menjadi kita yang sudahlah tidak mungkin. Aku masih saja menanti, padahal segala mimpi-mimpi hanyalah akan menjadi mimpi.

Mungkin memang pada akhirnya harus begini. Kita dipertemukan, diberi kesempatan saling membuat sebanyak mungkin kenangan, lalu dipisahkan. Dipisahkan untuk dipertemukan Tuhan dengan yang lebih baik lagi. Sungguh, Aku lelah berandai-andai, maka semoga ini terakhir kalinya aku mengingat kita dengan pahit. Semoga esok aku mampu mulai menulis lagu untuk masa depanku sendiri, bait demi bait.

Aku hanya ingin menjadi yang mengingatmu tanpa ada kesal, tanpa ada sesal, yang ada hanya rasa syukur yang menebal. Aku hanya ingin menjadi yang pernah mencicipi rasanya mencintai tanpa harus dapat kembali. Aku hanya ingin menjadi satu-satunya laki-laki yang masih bisa bersyukur tanpa mengukur-ukur apa yang seharusnya kau berikan secara teratur.

Setidaknya kau bisa merasa, mana yang seharusnya kau perjuangkan. Aku yang mencintaimu tanpa mengharap imbalan atau sesosok lain yang selalu menyumbang kepahitan.

Terima kasih karena kamu sudah mengajariku bertahan dari rasa-rasa pahitnya cinta. Setidaknya dulu aku tak sedewasa ini.


Maju itu sulit, ketika pikiranmu memaksa sebelah kakimu untuk melangkah, namun hatimu memaksa sebelahnya lagi untuk diam di tempat. tak akan selesai, mustahil ada ujungnya.