Selasa, 04 Oktober 2016

Hijab adalah Budaya Nusantara, Ini Buktinya!

"Hijab itu budaya Arab! Bukan budaya Nusantara!"
Wets, ternyata yang ngomong begini belum memahami budaya asli Nusantara dengan baik dan menyeluruh.
Perkenalkan, ini adalah Rimpu, pakaian tradisional wanita Bima, Nusa Tenggara Barat. Rimpu ini ada dua, yaitu Rimpu Mpida dan Rimpu Colo.
Rimpu Mpida adalah Rimpu yang ada cadarnya, menutupi wajah si wanita. Biasanya wanita yang memakai Rimpu Mpida ini masih belum menikah.
Sedangkan Rimpu Colo adalah Rimpu yang tiada cadar. Biasanya dipakai oleh ibu-ibu atau mereka yang sudah menikah.
Yang membuat hijab syar'i ini begitu khas ialah bahannya. Kain yang dipakai sebagai khimar (kerudung) dan jilbab (gamis) ialah kain sarung khas Bima, namanya sarung Nggoli.

...Perkenalkan, ini adalah Rimpu, pakaian tradisional wanita Bima, Nusa Tenggara Barat. Rimpu ini ada dua, yaitu Rimpu Mpida dan Rimpu Colo...


Begitulah, bisa kita rasakan pengaruh Islam sangatlah kuat terhunjam dalam budaya Nusantara. Jadi yang mengatakan bahwa "hijab budaya Arab" ialah mereka yang liberal dan terkotak dalam pemikiran sempit warisan penjajah.
Sekadar info, bahkan dulu para wanita keraton Kesultanan Yogyakarta itu berhijab. Adapun pakaian kebaya dan kemben, dulu adalah pakaian yang dipakai oleh budak-budak yang dikirim oleh Raja Bali untuk sultan-sultan di Yogya sebagai hadiah. Namun setelah kekalahan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1830), budaya barat yang dibawa penjajah kafir Belanda sangatlah kuat merasuki kehidupan di keraton sehingga bisa kita lihat, hari ini 'sebagian' budaya kita jauh dari kata syar'i.
Tetap, orang-orang kafir itu tidak sanggup menghancurkan syari'at dan budaya kita secara sempurna. Buktinya, budaya syar'i peninggalan Kesultanan Bima masih berbekas hingga zaman sekarang.

Eh, tapi kok sepi pengedukasian tentang budaya kita yang satu ini yah? Jujur saya juga baru tahu belum lama ini. Malah yang lebih ditonjolkan adalah budaya-budaya kita yang jauh dari syari'at.

Yah, begitulah tantangan zaman. Yang pasti bisa kita simpulkan, bahwa hijab syar’i itu adalah tren sepanjang masa. Dulu, kini, dan nanti. Kapan pun dan dimana pun. Jadi, masih berani bilang hijab itu bukan budaya Nusantara? Mikir dulu sebelum komentar!

Minggu, 02 Oktober 2016

Bagaimanakah Perempuan Saleha Itu?


Dan, kira-kira, bagaimanakah perempuan saleha, idaman setiap laki-laki saleh itu?
Yakni,
Perempuan yang menjaga pandangannya, menjaga penampilannya, menjaga perilakunya, menjaga hatinya, sesuai Al-Qur’an dan Sunah
Perempuan yang meninggalkan hal-hal yang mendekati dosa, hal-hal yang syubhat, hal-hal yang tidak bermanfaat
Perempuanyang lisan dan pendengarannya untuk bacaan Al-Qur’an, bukan untukmusik atau nyanyiankejahilan dan kemaksiatan
Perempuan yang mengidolakan Rasulullah, bukan mengidolakan artis atau semacamnya
Perempuan yang menjadikan ulama sebagai motivatornya
Perempuan yang mencari rida AllahTa’ala

(Dikutip dari buku “Jannah: Bagaimana Menikmati dan Menenangkan Hidup”, Muhammad Yuan Yusuf)

Hijrah Kita Sekarang Ini, Seperti Apa?


BARU saja kemarin, umat Muslim kembali menyambut tahun baru Hijriyyah. Di beberapa daerah, ada yang merayakannya dengan pawai obor, menyemarakkan dengan lomba-lomba keislaman, tabligh akbar, shalawatan dan masih banyak lainnya. Perayaan dan penyambutan yang dilakukan oleh sebagian orang tak lain hanya ingin menunjukkan rasa syukurnya karena masih dapat bertemu dengan 1 Muharram (Tahun Baru Islam).

Sejatinya, apa yang dilakukan sebagian orang memang tidak salah. Namun, alangkah lebih baik kita menjadikan momentum ini untuk mengingat bagaimana peristiwa hijrahnya Rasulullah dan Kaum Muhajjirin.

Hijrah Tak Sekadar Pindah

Saat ini, sebagian umat Islam ketika mendengar kata hijrah atau peristiwa hijrah Rasulullah dari Mekkah ke Madinah, menganggapnya sebagai suatu perpindahan biasa, layaknya migrasi penduduk dengan segala kerepotannya. Padahal, tidak semudah itu. Hijrahnya Rasulullah merupakan perjuangan yang besar.

Hijrah bukanlah melarikan diri. Hijrah adalah persiapan membekali diri untuk akhirat. Karena itulah, Allah SWT berfirman:

 “Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka di bunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki. Sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka ke dalam suatu tempat (surga) yang mereka menyukainya. Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Hajj: 58-59)



Hijrahnya Rasulullah saat itu sebenarnya memberikan banyak pelajaran untuk kita selaku umat Islam, di antaranya:

1. Rasulullah mencontohkan bahwa apabila jika suatu tempat masih belum kondusif untuk disampaikan Islam, padahal sudah bertahun-tahun lamanya disyiarkan Islam kita diperbolehkan untuk sementara pindah ke tempat yang sudah lebih kondusif, mengingat jumlah umat Islam di Madinah saat itu sudah cukup banyak. Karena berpindahnya Rasulullah saat itu tidak serta merta karena Rasulullah sudah lelah dalam mendakwahi Mekkah, namun karena inilah perintah dari Allah.

2. Persaudaraan yang terbangun atas dasar aqidah merupakan persaudaraan yang sangat indah. Ini dibuktikan oleh kaum Anshar dan kaum Muhajjirin dimana kaum Anshar tak sungkan menganggap kaum Muhajjirin seperti keluarganya sendiri.

3. Hijrahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah merupakan titik puncak perjuangan dakwahnya. Dimana, saat itu Rasulullah akhirnya mampu mendirikan Daulah Islam dengan izin Allah. Ini membuktikan bahwa, keberadaan Daulah Islam adalah suatu hal yang harus diperjuangkan.

Lalu, yang menjadi pertanyaannya bagaimana dengan keadaan umat Islam saat ini? Bagaimana estafet perjuangan umat Islam saat ini? Bagaimana kesejahteraan, persaudaraan dan kemakmuran umat Islam saat ini?

Umat Islam saat ini, sedang berada dalam keterpurukan. Pemimpin-pemimpinnya sedang sibuk berebut jabatan. Pemudanya ikut terbuai dengan virus-virus sekuler. Umat Islam tertindas. Umat Islam dihinakan. Pembantaian tak henti-henti dilakukan. Namun, rupanya rasa persaudaraan antar umat Islam sudah mulai berkurang.

Saat kaum Muslim di Palestina, Suriah, Irak mendapatkan banyak siksaan, kaum Muslim di belahan dunia lain seolah tidak peduli. Tidakkah kita semua malu dengan perjuangan Rasulullah dan para sahabat dulu? Mereka bersimpuh darah untuk menegakkan kalimat-Nya. Namun, kini kita membiarkan kaum musyrik menghancurkan dan berusaha memusnahkah saudara-saudara kita.

Oleh karena itu, sudah tidak banyak waktu lagi untuk kita berleha-leha. Sudah saatnya kita memperkokoh barisan memperjuangkan agama Islam, mendakwahkannya dan menjemput kemenangan yang sudah dijanjikan-Nya.

Wallahu’alam bi shawab.

Istri Boleh Manja Asal jangan Lebay..

Sosok istri  selalu diidentikkan dengan sifat manja-nya. Ketika menyebut kata istri akan terlintas bahwa ia makhluk yang tidak bisa dipisahkan dari karakternya yang manja.

Sebenarnya manja bukanlah sesuatu yang patut untuk dipermasalahkan sebab Allah Swt menciptakan makhluknya, laki-laki dan perempuan dengan sifat alamiahnya masing-masing. Ketika ada istri yang tidak ada kepribadian manja pada dirinya justru hal itu perlu dipertanyakan.

Tabiat manja yang dimiliki istri merupakan suatu anugerah yang Allah Swt karuniakan kepada kaum istri sebagai penyeimbang sifat lembut dan sifat penyayangnya. Sebab perempuan adalah (calon) ibu yang kelak akan menjadi sosok pelindung yang mengayomi anak-anaknya.

Sifat manja pada diri istri adalah hal yang sangat dominan akan tetapi meski begitu istri tidak baik jika memiliki sifat manja yang terlalu berlebihan. Perilaku manja pada tiap-tiap istri pasti tidaklah sama.

Seorang istri sudah selayaknya bersikap manja kepada suaminya tapi tidak perlu di atas batas kewajaran. Sebab, sikap manjanya istri yang berlebihan justru akan menyusahkan suaminya. Misalnya saking terlalu manjanya untuk memperbaiki paku jam dinding yang lepas musti nungguin suami pulang kerja, bisa bawa motor sendiri tapi maunya kemana-mana dianterin sama suami, jemur pakaian harus nunggu bantuan suaminya dan sebagainya.

Untuk perempuan yang belum menikah pun juga begitu harus bisa menempatkan sifat manja pada orang yang tepat, misalnya bersikap manja pada orang tuanya, pada saudaranya dengan porsi yang sepantasnya dan tidak boleh berlebihan, sekedar manja dalam batas kasih sayang antara keluarga. Bukan segalanya minta dilayani,menyuruh seenaknya dan lain sebagainya.


Aisyah RA juga biasa bermanja-manja dengan Rasulullah SAW. Itu artinya bersikap manja tidak dilarang dalam Islam. Selama ada batasnya dan memberi makna memperkuat jalinan kasih sayang yang sudah terbina.

Ukhti,Mengapa Gugat Cerai?

Bercerai? Siapa yang mau? Pastinya yang menikah tidak pernah – dan tidak akan mau – bercerai. Karena begitu ijab kabul yang terucap, Anda pastinya menginginkan pernikahan yang langgeng. Sakinah, mawadah wa rahmah.

Namun siapa sangka kalau angka perceraian di tanah air belakangan justru semakin tinggi. Sepanjang 2014 kasus cerai gugat di seluruh Pengadilan Agama ada 268.381 kasus. Yang mencemaskan perceraian hari ini banyak diinisiasi kaum perempuan, alias banyak para istri yang mengajukan gugat cerai. Prosentasinya mencapai hingga 75 persen.

“Sekarang ada kecenderungan perempuan lebih berani untuk mengambil keputusan cerai,” kata Prof. DR. Nasarudin Umar, Imam Besar Mesjid Istiqlal, kala menjabat Dirjen Bimas Kemenag saat itu.

Para istri yang menggugat cerai suaminya itu menurut laporan pihak Kementerian Agama banyak dilatarbelakangi alasan tidak harmonis.

Pertanyaannya adalah apakah boleh semata alasan tidak harmonis lalu kemudian kaum perempuan mengajukan gugat cerai? Semudah itukah?

Saya ingin mengajukan pertanyaan simpel kepada anda, akhwat fillah, soal tujuan dan cara pernikahan;

Bukankah pernikahan itu bertujuan menyatukan dua pribadi yang berbeda sehingga tercipta keharmonisan?
Bukankah salah satu cara – dan harus sering kita gunakan – agar tercipta keharmonisan adalah bisa menerima kekurangan pasangan kita? Bukan sekedar mengharapkan kelebihan dan kesalehannya?
Bukankah kita pun harus belajar mengalah untuk tercipta keharmonisan? Karena pernikahan yang harmonis bukanlah pernikahan yang berarti suami dan istri selalu senada dan seirama. Bukan keseragaman warna yang membuat pelangi itu menjadi indah, tapi keberagamanlah yang membuat pelangi menjadikannya indah.
Saya tidak menafikan bahwa kadangkala suami bertingkah menyebalkan. Tapi bukankah itu bagian dari kehidupan yang harus kita jalani? Siapa sih yang dalam hidupnya tidak pernah bertingkah menyebalkan, seorang wanita pun bisa dipandang menyebalkan oleh suaminya.

Berikutnya yang saya dapat dari data Kementerian Agama, banyak gugat cerai dilayangkan oleh para istri yang bekerja dan punya penghasilan mapan. Artinya, ada faktor (maaf) ego yang tumbuh dalam pribadi para wanita manakala mereka merasa punya keamanan finansial tanpa topangan suami.

Karenanya ketika para wanita ini merasa suami bertingkah menyebalkan – dan penilaian ini bisa amat subyektif – lalu para istri merasa pernikahan tidak lagi harmonis, mereka pun ambil keputusan gugat cerai. Toh, saya – pikir istri – bisa hidup tanpa bertumpu pada suami. Saya punya pekerjaan, saya punya penghasilan, saya bisa hidup mandiri.

Saya tidak menafikan bahwa ada suami yang bertindak keterlaluan, seperti berselingkuh, atau bertindak kasar pada istri dan anak-anak. Untuk alasan itu maka gugat cerai bisa dibenarkan dalam pandangan syariat Islam.

Tapi bila semata karena ‘tidak harmonis’, karena masing-masing mempertahankan ego untuk sesuatu yang sebenarnya bisa ditawar dan dinegosiasikan, apakah harus akhwat fillah mengajukan gugat cerai?

Bukankah ada rules dalam pernikahan yang harus disepakati bersama? Dimana aturan itu datang dari Allah SWT.? Dan Allah adalah Zat yang Maha Bijaksana (al-Hakim).

Pernahkan ukhti fillah membaca hadits shahih yang menegur para wanita yang berani menggugat cerai suami mereka tanpa alasan yang haq?

 أيُّما امرأةٍ سأَلتْ زوجَها طلاقَها مِن غيرِ بأسٍ فحرامٌ عليها رائحةُ الجنَّةِ


 Wanita mana saja yang meminta cerai kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan syariat, maka haram baginya wangi surga. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan lainnya. shahih). 


Penulis Nayl al-Awthar Imam asy-Syawkani memberikan komentar: Di dalam hadits ini terdapat dalil bahwa permintaan talak (gugat cerai) seorang istri kepada suaminya adalah diharamkan dengan pengharaman yang keras. Sudikah ukhti diharamkan mencium wanginya surga karena mengajukan gugat cerai pada suami?

Rasulullah SAW. juga mengingatkan para wanita yang mengajukan khulu’ (gugat cerai dengan kompensasi pengembalian mahar), dengan peringatan yang keras. Sabdanya:

الْمُخْتَلِعَاتُ هُنَّ الْمُنَافِقَاتُ


 “Para istri yang minta khulu’ adalah wanita-wanita munafik.” [Hadits shahih. Riwayat Tirmidzi (no. 1186) dan Abu Dawud (no. 9094), dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Lihat Silsilah Ash-Shahiihah (no. 632) dan Shahih Jaami’ush Shaghiir (no. 6681)].
 

Camkanlah dua hadits di atas. Maukah kita menukarkan jannah Allah hanya untuk membela ego kita, tak mau merendahkan hati dan taat di hadapan suami? Sementara Rasulullah SAW. begitu keras memberikan peringatan kepada para wanita yang mengajukan gugat cerai yang tanpa dilandasi alasan yang haq.

Allah memang menghalalkan perceraian. Tapi bila ukhti menggugat cerai suami karena alasan ‘tidak harmonis’ seperti suami tidak romantis, kurang pengertian pada istri, apalagi ketika suami ditimpa musibah kesulitan nafkah keluarga, lalu istri mengajukan gugat cerai. Hanya sebatas itukah daya tahan ukhti menjalani pernikahan? Karena sampai ke ujung dunia sekalipun tak akan ada suami yang sempurna. Selalu ada plus minus dalam diri seorang pria.

Lalu bila karena alasan seperti itu, dimanakah yang namanya cinta? Bukankah cinta itu berarti menuntut meletakkan kebahagiaan orang lain (suami dan anak-anak) di atas kebahagiaan kita?

Mengapa tidak belajar untuk mencintai karena Allah, tulus dan murni, dan malah justru belajar menggugat cerai suami? Duh.


(Buku : Bukan Pernikahan Cinderella : Ustadz Iwan Januar)

Bagaimanapun Juga Dia Ayahmu

Seburuk apa pun rupanya ..
Segalak apa pun jika sedang marah ..
Sepelit apa pun dia saat kau ingin sesuatu ..
Seburuk apa pun perangainya ..
Selama dia masih mengimani Allah dan RasulNya ..
Tidak menyekutukanNya dengan apa pun ..
Dia adalah tetap AYAHMU … Jangan membencinya dan jangan ingkari bahwa kau anaknya ..

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لاَ تَرْغَبُوا عَنْ آبَائِكُمْ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ أَبِيهِ فَهُوَ كُفْرٌ

Jangan kalian benci ayah-ayah kalian, barang siapa yang membenci ayahnya maka dia kufur. (HR. Al Bukhari No. 6768, Muslim, 113/62)

Imam Badruddin Al ‘Aini Rahimahullah mengatakan:

قَوْله: لَا ترغبوا عَن آبائكم أَي: لَا تتركوا النِّسْبَة عَن آبائكم فتنسبون إِلَى غَيرهم. قَوْله: فَإِنَّهُ كفر بكم أَي: فَإِن انتسابكم إِلَى غير آبائكم كفر بكم أَي: كفر حق ونعمة.

Sabdanya: Janganlah kalian membenci ayah-ayah kalian,” yaitu jangan kalian meninggalkan nasab kalian kepada ayah-ayah kalian lalu kalian menasabkan diri kalian kepada selain mereka.

Dan sabdanya “itu adalah kekufuran” yaitu penasaban kalian kepada orang lain adalah kufurnya kalian, yaitu kufur terhadap hak (ayah) dan nikmat. (‘Umdatul Qari, 9/24)

Syaikh Mushthafa Al Bugha menjelaskan makna “kufur” dalam hadits ini:

خرج عن الإسلام إن استحل ذلك أو المراد فقد كفر بالنعمة إذ أنكر حق أبيه عليه

Yaitu keluar dari Islam jika dia menghalalkan perbuatan itu, atau maksudnya adalah dia kufur terhadap nikmat sebab dia telah mengingkari hak ayahnya atas dirinya. (Ta’liq Muhthafa Al Bugha)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ، وَهُوَ يَعْلَمُ فَالْجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ

Barang siapa yang mengklaim seorang yang bukan ayahnya padahal dia tahu (itu bukan ayahnya), maka surga haram baginya. (HR. Al Bukhari No. 4326, Muslim, 115/63)

Yuk bagi yang ayahnya masih ada … sayangi ayah kita ..
Bagi yang sudah wafat, jangan lupa doanya dan sedekah untuknya ..


Wallahu A’lam

Muslimah Jangan Abaikan! Saat Mengenakan Hijab Syar'i, Waspadalah Jerat Iblis Dalam Hijab Syar'i mu

Muslimah Jangan Abaikan! Saat Mengenakan Hijab Syar'i, Waspadalah Jerat Iblis Dalam Hijab Syar'i mu.
lhamdulillah... Seperti kita ketahui bersama, hijab syar'i kini mulai semarak dan mulai menjadi trend. Ini adalah kebaikan dan kemuliaan.

 Tapi setan, gak mau ketinggalan...

Dia' terus berusaha tetap menyesatkan walau hijab sudah syar'i , setan menumbuhkan semangat di hati para muslimah untuk mengoleksi hijab syar'i dengan berbagai mode.
Serta membuatnya lupa dengan semangat memperbaiki akhlaq.

Setan, menjeratnya dengan senang menumpuk~ numpuk pakaian dan mengurangi sedekahnya.
Setan terus menumbuhkan semangatnya untuk tampil cantik dan syar'i , namun melupakan diri untuk menambah ilmu agama .

Belum puas dengan itu, setan menyemangati agar para wanita yang berhijab syar'i untuk hadir di majelis-majelis ta'lim dengan tujuan memamerkan koleksi hijab syar'i miliknya.
Setan pun semakin senang, karena wanita muslimah sudah melupakan ilmu tawadhu dan kesederhanaan .

Hijabnya memang syar'i tapi, mahalnya gak ketulungan...
Wanita muslimah pun menabung sedikit-sedikit untuk beli hijab syar'i dan melupakan tabungan ke tanah suci. Lupa menabung untuk berkurban bahkan mudah menabung untuk beli baju dari pada keluar untuk sedekah...

Ketika hijab syar'i yg baru di belinya, ada yang sedikit cacatnya, pikirannya resah penuh kecewa. Setan telah membuatnya lupa dengan cacat shalatnya, cacat sedekahnya , dan cacatnya baca alqur'an.
Jika hijab syar'i yg di milikinya, memiliki keindahan sempurna ia tidak siap menyedekahkan nya. Hatinya telah menikah dengan dunia dan bercerai dengan RABB-nya. Jika sudah demikian masihkah punya keinginan mengoleksinya?

Milikilah hijab syar'i seperlunya, Sederhanakanlah penampilan...

Belilah yg harganya tidak terlalu jauh dengan harga kain kafan.